Jumat, 20 Agustus 2010

Imam dan Ma'mum

Imam dan Ma'mum



Silahkan Baca Selengkapnya...

Yang Membatalkan Sholat

Yang Membatalkan Sholat

Shalat itu batal atau tidak syah apabila salah satu syarat rukunnya tidak dilaksanakan, atau ditinggalkan dengan sengaja. Dan sholat itu batal dengan hal-hal seperti tersebut dibawah ini:
  1. Berhadas
  2. Terkena najis yang tidak termaafkan
  3. Berkata-kata dengan sengaja walaupun dengan satu huruf yang memberi kan pengertian
  4. Terbuka Auratnya
  5. Mengubah niat: misalnya ingin memutuskan sholat
  6. Makan atau minum meskipun sedikit
  7. bergerak-gerak berturut turut tiga kali seperti melangkah atau berjalan
  8. Membelakangi Kiblat
  9. Menambah rukun yang berupa perbuatan, seperti rukuk dan sujud
  10. Tertawa terbahak-bahak
  11. Mendahului imamnya dua rukun
  12. Murtad
Silahkan Baca Selengkapnya...

Rukun Sholat

Rukun Sholat


  1. Niat : Dalam hal ini posisi dalam keadaan duduk (tafakur sejenak) untuk konsentrasi pada pembuka hakekat (sesuai dengan hasabil makam) dalam rangka mendirikan niat dzikrullah / mengingat Allah
  2. Berdiri tegak (badan menghadap Ka’bah)
  3. Takbiratul ihram
  4. Membaca surah Al Fatehah
  5. Ruku’ dengan tu’maninah
  6. I’tidal
  7. Sujud
  8. Duduk antara dua sujud
  9. Tashyahud awal
  10. Tashyahud akhir
  11. Membaca shalawat nabi
  12. Salam
  13. Tertib
Silahkan Baca Selengkapnya...

Syarat-syarat Sholat

Syarat-syarat Sholat


Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat 
dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

I. Syarat-syarat wajib shalat 
yaitu syarat-syarat diwajibkannya seseorang mengerjakan shalat. Jadi 
jika seseorang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak diwajibkan 
mengerjakan shalat. yaitu :

1.Islam, Orang yang tidak Islam tidak wajib mengerjakan shalat. 

2.Suci dari Haidl dan Nifas, Perempuan yang sedang Haidl (datang 
bulan)atau baru melahirkan tidak wajib mengerjakan shalat. 

3.Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang 
gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat, 
sbagaimana sabda Rasulullah : 

"Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak 
diberi beban syari'at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, 
anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh." 
(HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih) 


4.Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan 
shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh : 

a.Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah 

"Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah 
berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, 
maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya." (HR. Abu Daud dan 
lainnya, hadits shahih)

b.Mimpi bersetubuh. 
c.Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan 

5.Telah sampai da'wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan 
da'wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat. 

6.Jaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat. 


II. Syarat-syarat sah Shalat 

Yaitu yang harus dipenuhi apabila seseorang hendak melakukan shalat. 
Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak sah shalatnya. 
Syarat-syarat tersebut ialah : 

1.Masuk waktu shalat 
Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk 
waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum 
masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya 
atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 103)

Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat 
Jibril  pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi 
wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril  mengimaminya di awal 
waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi 
shallallaahu alaihi wasallam: "Di antara keduanya itu adalah waktu 
shalat."

2.Suci dari hadats besar dan hadats kecil. 
Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar 
adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu 
wa Ta'ala :

Artinya :"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak 
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, 
dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata 

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : 
Artinya :"Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai 
bersuci". (HR. Muslim)

3.Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis, 
Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu 
alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah :

"Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat." 
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah 
Subhanahu wa Ta'ala :

"Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan." (Al-Muddatstsir: 4)
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu 
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu 
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

"Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid 
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai 
berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu 
alaihi wasallam, 'Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya 
itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan 
dan tidak diutus dengan membawa kesulitan." (HR. Al-Bukhari).

4.Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan 
terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya 
shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan 
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya 
atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 103)
Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat 
Jibril  pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi 
wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril  mengimaminya di awal 
waktu dan di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kepada Nabi 
shallallaahu alaihi wasallam: "Di antara keduanya itu adalah waktu 
shalat."

5.Menutup aurat,  Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang 
dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman 
Allah Subhanahu wa Ta'ala : 

"Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada 
ditempat sujud ." (Al-A'raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. 
sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa 
menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa 
shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, 
maka shalatnya tidak sah.

6.Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap 
kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan 
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka 
sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. 
Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu 
berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Al-Baqarah: 144)
Silahkan Baca Selengkapnya...

Pengertian Sholat


 Pengertian Sholat


Sholat adalah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadat, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Syara'.

Dalil yang Mewajibkan Sholat

Dalil yang mewajibkan Sholat banyak sekali baik dalam Al-Qur'an maupun dalam hadist Nabi Muhammad SAW. Dalil-dalil ayat Al Qur'an yang mewajibkan sholat antara lain :


Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' 
(Q.S Al Baqarah:43)



Artinya: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (Q.S Al Baqarah:45)

Silahkan Baca Selengkapnya...

Kamis, 12 Agustus 2010

Azan dan Iqamah

AZAN & IQAMAH

1. Pengertian Azan dan Iqamah
  • Azan dan iqamah adalah dua perkara sunat dilakukan sebelum melakukan mana-mana sembahyang fardhu.
  • Azan dari segi bahasa bermaksud pemberitahuan. Manakala dari segi syara‘ pula diertikan sebagai suatu gabungan perkataan tertentu untuk mengetahui waktu sembahyang fardhu atau boleh diertikan sebagai pemberitahuan tentang waktu sembahyang dengan lafaz-lafaz tertentu.
  • Iqamah pula bermaksud sebutan tertentu untuk membangkitkan para hadirin mengerjakan sembahyang
2. Hukum Azan dan Iqamah
  • Azan dan iqamah adalah sunnah mu’akkadah secara kifayah sebelum menunaikan setiap sembahyang fardhu sama ada dilakukan secara berjama‘ah atau bersendirian, sama ada sembahyang qadha’ atau tunai bagi orang lelaki.
  • Bagi lelaki yang bersembahyang bersendirian, kedua-duanya (azan dan iqamah) disunatkan secara ‘aini. Bagi kaum wanita pula, sama ada berseorangan atau berjama‘ah disunatkan melakukan iqamah sahaja kerana dikhuatiri boleh menimbulkan fitnah dengan meninggikan suara mereka.
3. Lafadz Azan dan Aturan Melakukanya
  • Lafaz azan terdiri daripada lima belas kalimah. Ia dilaungkan sebanyak dua kali bagi setiap lafaz kecuali takbir pada awal azan disebut sebanyak empat kali dan lafaz kalimah tawhid hanya sekali sahaja.
  • Lafaz tersebut adalah seperti berikut: 

  •  Pada azan subuh pula ditambah kalimah sebanyak dua kali selepas kali yang kedua.
  • Sembahyang-sembahyang sunat yang dilakukan berjama‘ah seperti sembahyang sunat hari raya, tarawih dan sebagainya tidak disunatkan azan dan iqamah. Cuma dilaungkan semasa hendak menunaikannya dengan lafaz atau pada sembahyang tarawih diucap .
4. Syarat Syah Azan dan Iqamah
1. Masuk waktu sembahyang melainkan waktu Subuh kerana ia mempunyai dua azan. Azan pertama dilaungkan sebelum masuk waktu iaitu bermula waktunya selepas berlalu separuh malam.
2. Hendaklah dengan bahasa Arab, tetapi boleh melakukan azan untuk diri sendiri dengan terjemahannya sekiranya tidak tahu melakukan azan dengan bahasa tersebut.
3. Azan dan Iqamah hendaklah dinyaringkan biarpun didengari oleh salah seorang daripada jama‘ah ketika sembahyang berjama‘ah.
4. Tertib dan muwalat di antara lafaz azan dan iqamah.
5. Azan mestilah dilakukan oleh seorang sahaja.
6. Orang yang melaungkan azan hendaklah seorang lelaki muslim yang berakal.
5. Hal hal yang di Sunnatkan waktu Azan
1. Mu’azzin hendaklah suci daripada hadath kecil atau hadath besar.
2. Menghadap ke arah qiblat.
3. Dilakukan oleh orang yang baik dan merdu suaranya serta nyaring.
4. Dilaungkan di tempat yang tinggi kecuali jika menggunakan pembesar suara.
5. Dilakukan secara berdiri kecuali uzur.
6. Memalingkan muka ke sebelah kanan semasa menyebut dan ke sebelah kiri semasa menyebut dengan keadaan dada yang tetap.
7. Melakukan tarji‘ semasa azan iaitu menyebut dua kalimah secara senyap sebelum dinyaringkan.
8. Melakukan tathwib semasa azan subuh iaitu menyebut kalimah sebanyak dua kali selepas laungan .
9. Meletakkan jari-jari tangan di kedua-dua telinga ketika azan dengan tujuan untuk meninggikan suara.
10. Orang yang mendengar azan hendaklah diam dan mengulangi apa yang disebut oleh mu’azzin kecuali ketika mu’azzin menyebut kalimah
dan , maka hendaklah dijawab dengan kalimah .
Begitu juga ketika tathwib, hendaklah dijawab dengan lafaz .

11. Berdoa dan salawat ke atas Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam selepas azan seperti berikut:

6. Lafadz Iqamah dan Aturannya
  • Lafaz iqamah mempunyai sebelas kalimah, setiap kalimah diucapkan hanya sekali sahaja kecuali takbir yang pertama dan akhirnya diulang sebanyak dua kali. Begitu juga dengan lafaz yang diucapkan selepas kalimah juga diulang sebanyak dua kali.
  • Lafaz iqamah adalah seperti berikut:
  • Syarat-syarat iqamah adalah sama seperti azan, tetapi dibolehkan jika dilakukan oleh kaum wanita sama ada semasa sembahyang bersendirian atau berjama‘ah sesama mereka.
  • Selain itu, iqamah juga disyaratkan tidak diselangi dengan diam yang terlalu lama di antaranya dengan takbiratul ihram kecuali sekadar imam menyuruh agar membetulkan saf. Iqamah hendaklah dilakukan dengan cepat kerana ia disyari‘atkan bagi memberitahu mereka yang telah hadir untuk mengerjakan sembahyang.
  • Perkara-perkara sunat semasa iqamah juga hampir sama dengan azan, cuma disunatkan kepada orang yang mendengar iqamah menjawab dengan kalimah semasa bilal menyebut yang kedua.
7. Azan dan Iqamat Untuk tujuan Selain Sembahyang
Selain untuk tujuan sembahyang, azan dan iqamah juga sunat dilakukan untuk beberapa perkara lain:
1. Azan di telinga kanan kanak-kanak yang baru lahir, begitu juga sunat diiqamahkan pada telinga kiri. Ini adalah kerana Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam sendiri telah mengazankan telinga Hasan ketika beliau dilahirkan oleh Fatimah.
2. Azan pada waktu kebakaran, waktu perang dan di belakang orang yang bermusafir.
3. Azan pada telinga orang yang berdukacita, orang yang jatuh, orang yang marah atau manusia yang menjadi liar perangainya dan juga orang yang dirasuk jin atau syaitan.
Silahkan Baca Selengkapnya...

Tayammum

THAHARAH

Tayammum
1. Pengertian Tayammum
Tayammum ialah menyampaikan atau menyapu debu tanah ke muka dan kedua-dua tangan dengan syarat yang tertentu. Tayammum dilakukan bagi menggantikan wudhu’ atau mandi wajib (junub, haidh dan nifas), ketika ketiadaan air atau uzur menggunakan air, dan ia adalah suatu rukhsah atau keringanan yang diberikan oleh syara‘ kepada manusia. 
Disyari‘atkan tayammum berdasarkan firman Allah SWT dalam (Surah Al-Ma’idah, 5:6) yang artinya

“Dan jika kamu junub (berhadath besar) maka bersucilah dengan mandi wajib; dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air), atau dalam musafir, atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air, atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapat air (untuk berwudhu’ dan mandi), maka hendaklah kamu bertayammum dengan tanah – debu yang bersih.”
(Surah Al-Ma’idah, 5:6)


Semua ibadah atau amalan ta‘at yang perlu kepada bersuci (taharah) seperti sembahyang, menyentuh mushaf, membaca Al-Qur’an, sujud tilawah dan beri‘tikaf di dalam masjid adalah boleh bersuci dengan tayammum sebagai ganti wudhu’ dan mandi, kerana amalan yang diharuskan taharah dengan air adalah diharuskan juga dengan tayammum.

2. Sebab yang membolehkan Tayammum 
1. Ketiadaan air yang mencukupi untuk wudhu’ atau mandi.
2. Air yang ada hanya mencukupi untuk keperluan minuman binatang yang dihalalkan, sekalipun keperluan itu pada masa akan datang.
3. Sakit yang jika terkena air boleh mengancam nyawa atau anggota badan atau melambatkan sembuh.

3. Syarat Tayammum
1. Menggunakan debu tanah yang suci, tidak musta‘mal, tidak bercampur benda lain.
2. Menyapu muka dan dua tangan dengan dua kali pindah.
3. Hilang najis terlebih dahulu.
4. Masuk waktu sembahyang.
5. Bertayammum bagi setiap ibadat fardhu.
6. Ada keuzuran seperti sakit atau ketiadaan air.

4. Anggota Tayammum 
1. Muka.
2. Dua belah tangan hingga siku.

5. Rukun Tayammum
1. Berniat ketika menyapu debu tanah ke muka. Niat tayammum adalah seperti berikut:


Maksudnya:
“Sahaja aku bertayammum bagi mengharuskan solat kerana Allah Ta`ala.”

2. Menyapu muka.
3. Menyapu kedua-dua belah tangan.
4. Tertib.
 
 6. Sunnat Tayammum
1. Membaca basmalah yaitu lafaz
2. Mendahulukan menyapu tangan kanan dari yang kiri dan memulakan bahagian atas dari bahagian bawah ketika menyapu muka.
3. Berturut-turut di antara menyapu muka dan menyapu tangan.

7. Hal yang membatalkan Tayammum
1. Berlaku sesuatu daripada perkara-perkara yang membatalkan wudhu’.
2. Melihat air atau mendapat air sekiranya bertayammum kerana ketiadaan air.
3. Murtad iaitu keluar dari agama Islam.
 

Silahkan Baca Selengkapnya...

Mandi

THAHARAH

Mandi

1. Pengertian Mandi
  • Dari segi bahasa, mandi bererti mengalirkan air ke seluruh badan.
  • Dari segi syara‘, mandi bermaksud mengalirkan air ke seluruh badan dengan niat yang tertentu.
2. Hal yang Mewajibkan mandi
1. Bertemu dua khitan iaitu apabila masuknya hasyafah zakar atau sekadar yang ada bagi zakar yang kudung ke dalam farj perempuan yang masih hidup dengan sempurna walaupun tidak keluar mani.
2. Keluar mani walaupun sedikit dengan sengaja atau pun bermimpi.
3. Keluar haidh, iaitu darah semulajadi yang keluar dari pangkal rahim ketika wanita dalam keadaan sihat pada waktu yang tertentu.
4. Melahirkan anak atau bersalin (wiladah).
5. Keluar nifas, iaitu darah yang keluar selepas bersalin.
6. Mati, kecuali mati syahid.
 3. Fardhu Mandi
1. Berniat pada permulaan kena air pada badan.
Bagi orang yang berjunub niatnya ialah mengangkat janabah atau hadath besar. Niatnya seperti berikut:

Maksudnya:
“Sahaja aku mandi junub kerana Allah Ta`ala”.

atau

Maksudnya:
“Sahaja aku mengangkat hadath besar kerana Allah Ta`ala”.

Bagi orang yang datang haidh atau nifas niatnya ialah mengangkat hadath haidh atau nifas. Niatnya adalah seperti berikut:

Maksudnya:
“Sahaja aku mandi daripada haid kerana Allah Ta`ala”.

atau


Maksudnya:
“Sahaja aku mandi daripada nifas kerana Allah Ta`ala”.
2. Menghilangkan najis yang terdapat pada tubuh badan.
3. Meratakan air ke seluruh badan terutama kulit, rambut dan bulu.

4. Perkara Sunnat Waktu Mandi 
    Terdapat banyak perkara sunat semasa mandi, antaranya:

1. Membaca “basmalah” yaitu:

2. Berwudhu’ sebelum mandi.
3. Membasuh dua tapak tangan.
4. Menggosok seluruh bahagian badan.

5. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan daripada yang kiri.
6. Mengulangi membasuh anggota tubuh sebanyak tiga kali.
7. Berturut-turut iaitu tidak berlaku perceraian yang lama di antara membasuh sesuatu anggota dengan anggota yang lain.
 5. Mandi mandi Sunnat  

Mandi-mandi yang disunatkan adalah seperti berikut:
    1. Mandi hari Juma‘at bagi orang yang hendak pergi sembahyang Juma‘at. Waktunya dari naik fajar sadiq.
    2. Mandi hari raya fitrah dan hari raya adhha. Waktunya adalah mulai dari tengah malam pada hari raya itu.
    3. Mandi kerana minta hujan (istisqa’).
    4. Mandi kerana gerhana bulan.
    5. Mandi kerana gerhana matahari.
    6. Mandi kerana memandikan mayat.
    7. Mandi kerana masuk agama Islam.
    8. Mandi orang gila selepas pulih ingatannya.
    9. Mandi orang yang pitam selepas sedar dari pitamnya.
    10. Mandi ketika hendak ihram.
    11. Mandi kerana masuk Makkah.
    12. Mandi kerana wuquf di ‘Arafah.
    13. Mandi kerana bermalam di Muzdalifah.
    14. Mandi kerana melontar jumrah-jumrah yang tiga di Mina.
    15. Mandi kerana tawaf iaitu tawaf qudum, tawaf ifadhah dan tawaf wida‘.
    16. Mandi kerana sa‘i.
    17. Mandi kerana masuk ke Madinah.
    Silahkan Baca Selengkapnya...

    Cara Berwudhu yang Benar Menurut Pandangan Islam (Syara')

    THAHARAH

    Cara Berwudhu yang Benar Menurut Pandangan Islam (Syara')
     1. Pengertian Wudhu
    Wudhu menurut bahasa, berasal dari kata Al_Wadha’ah yang berarti kebersihan dan kecerahan. Kata wudhu’ dengan men-dhamah-kan huruf waw adalah perbuatan wudhu’, sedangkan dengan men-fathah-kan huruf waw (wadhu’) berarti air untuk berwudhu’. [Lihat Fairuz Abadi, Al_Qamus Al_Muhith (I/33); Mukhtar Ash_Shahihah, hal. 575; dan Al_Majmu’ (I/355)]
    Menurut istilah, wudhu’ adalah penggunaan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu – yaitu wajah, dua tangan, kepala, dan dua kaki – untuk menghilangkan apa yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat dan ibadah yang lain.
    Wudhu disyariatkan berdasarkan dalil_dalil Alquran, sunnah, dan ijma (kesepakatan para ulama).
    Menurut Alquran, Allah Ta’ala berfirman :
    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al_Maidah (5): 6]
    [403]  Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.
    [404] Artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi. [Lihat Al_Qur’an dan Terjemahnya, hal. 158-159]
    Menurut sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan diterima shalat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadats, hingga ia berwudhu.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah]
    Adapun menurut ijma, Ibnu Al_Mundzir mengatakan bahwa para ulama umat ini telah sepakat, tidak sah shalat tanpa bersuci, jika ia mampu untuk melakukannya. [Lihat Kitab Al_Ausath karya Ibnu Al_Mundzir, , hal. 1/107]

    2. Fardhu Wudhu
    1. Berniat ketika meratakan air ke seluruh muka. Niat wudu’ adalah seperti berikut:

    Maksudnya:
    “Sahaja aku mengangkat hadath kecil kerana Allah Ta‘ala”.

    atau

    Maksudnya:
    “Sahaja aku berwudhu’ kerana Allah Ta‘ala”.


    2. Membasuh muka. Had atau batasan muka yang wajib dibasuh adalah dari tempat tumbuh rambut di sebelah atas sehingga sampai kedua tulang dagu sebelah bawah dan lintangannya adalah dari anak telinga hingga ke anak telinga.

    3. Membasuh dua tangan hingga dua siku. Bagi orang yang tiada siku disunatkan membasuh hujung anggota yang ada.

    4. Menyapu sedikit kepala. Boleh disapu di ubun-ubun atau lain-lain bahagian rambut yang ada di dalam had atau kawasan kepala, tetapi yang utamanya adalah menyapu seluruh kepala.

    5. Membasuh dua kaki hingga dua buku lali.

    6. Tertib, iaitu melakukan perbuatan itu daripada yang pertama hingga akhir dengan teratur.

    3. Syarat-syarat Wudhu 
    Terdapat dua syarat dalam wudhu’ iaitu syarat wajib dan syarat sah.

    a.) Syarat Wajib Wudhu’
    1. Islam.
    2. Baligh.
    3. Berakal.
    4. Mampu menggunakan air yang suci dan mencukupi.
    5. Berlakunya hadath.
    6. Suci daripada haidh dan nifas.
    7. Kesempitan waktu. Wudhu’ tidak diwajibkan ketika waktu yang panjang tetapi diwajibkan ketika kesempitan waktu.

    b.) Syarat Sah Wudhu’
    1. Meratakan air yang suci ke atas kulit, iaitu perbuatan meratakan air pada seluruh anggota yang dibasuh hingga tiada bahagian yang tertinggal.
    2. Menghilangkan apa sahaja yang menghalang sampainya air ke anggota wudhu’.
    3. Tidak terdapat perkara-perkara yang boleh membatalkan wudhu’ seperti darah haidh, nifas, air kencing dan seumpamanya.
    4. Masuk waktu sembahyang bagi orang yang berterusan dalam keadaan hadath seperti orang yang menghidap kencing tidak lawas.
    Selain itu, terdapat beberapa syarat wudhu’ mengikut ulama’ mazhab Syafi‘i, iaitu:
    1. Islam.
    2. Mumayyiz.
    3. Suci daripada haidh dan nifas.
    4. Bersih daripada apa sahaja yang boleh menghalang sampainya air ke kulit.
    5. Mengetahui kefardhuan wudhu’.
    6. Tidak menganggap sesuatu yang fardhu di dalam wudhu’ sebagai sunat.
    7. Menghilangkan najis ‘aini yang terdapat pada badan dan pakaian orang yang berwudhu’.
    8. Tidak terdapat pada anggota wudhu’ bahan yang mengubahkan air.
    9. Tidak mengaitkan (ta‘liq) niat berwudhu’ dengan sesuatu.
    10. Mengalirkan air ke atas anggota wudhu’.
    11. Masuk waktu sembahyang bagi orang yang berhadath berterusan.
    12. Muwalat, iaitu berturutan.


    4. Sunnat-sunnat Wudhu 
    1. Membaca “basmalah” iaitu lafaz 
     Artinya: 'dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".


    2. Membasuh dua tapak tangan hingga pergelangan tangan.
    3. Berkumur-kumur.

    4. Memasukkan air ke dalam hidung.
    5. Menyapu seluruh kepala.
    6. Menyapu dua telinga.
    7. Menyelati janggut yang tebal.
    8. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri.
    9. Menyelati celah-celah anak jari tangan dan kaki.
    10. Melebihkan basuhan tangan dan kaki dari had yang wajib.
    11. Mengulangi perbuatan itu sebanyak tiga kali.
    12. Berturut-turut iaitu tidak berselang dengan perceraian yang lama di antara satu anggota dengan anggota yang lain yang menyebabkan anggota itu kering.
    13. Menggosok anggota wudhu’ supaya lebih bersih.
    14. Bersugi dengan sesuatu yang kesat.
    15. Menghadap qiblat.
    16. Membaca doa selepas berwudhu’,yaitu:

     Maksudnya:
    “Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah yang Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai Tuhanku, jadikan aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikan aku dari golongan orang-orang yang bersih.” 


    5. Yang Membatalkan Wudhu 
    1. Keluar sesuatu daripada lubang dubur atau qubul sama ada tahi, kencing, darah, nanah, cacing, angin, air mazi atau air wadi dan sebagainya melainkan air mani sendiri kerana apabila keluar mani diwajibkan mandi.
    2. Tidur yang tidak tetap punggungnya, kecuali tidur dalam keadaan rapat kedua-dua papan punggung ke tempat duduk.
    3. Hilang akal dengan sebab mabuk, gila, sakit, pengsan atau pitam kerana apabila hilang akal, seseorang itu tidak mengetahui keadaan dirinya.
    4. Bersentuh kulit lelaki dengan perempuan yang halal nikah atau ajnabiyyah (bukan mahram) walaupun telah mati.
    5. Menyentuh kemaluan (qubul dan dubur manusia) dengan perut tapak tangan walaupun kemaluan sendiri.
    6. Murtad iaitu keluar dari agama Islam.
     
    Silahkan Baca Selengkapnya...

    Macam macam Najis

    "T H A H A R A H"
     Macam macam Najis dan Cara Menghilangkannya

     Pengertian Najis
        Najis adalah suatu benda yang kotor menurut Syara'. Contohnya:
    • bangkai, kecuali manusia ikan dan belalang
    • darah
    • nanah
    • segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul
    • anjing dan babi
    • minuman keras seperti arak dan sebagainya
    • bagian anggota binatang yang terpisah karena dipotong dan sebagainya karena masih hidup
    1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)
    Yang termasuk najis ringan ini adalah air seni atau air kencing bayi laki-laki yang hanya diberi minum asi (air susu ibu) tanpa makanan lain dan belum berumur 2 tahun. Untuk mensucikan najis mukhafafah ini yaitu dengan memercikkan air bersih pada bagian yang kena najis.

    2. Najis Mutawassithah (Najis Biasa/Sedang)
    Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang/hewan adalah najis biasa dengan tingkatan sedang. Air kencing, kotoran buang air besar dan air mani/sperma adalah najis, termasuk bangkai (kecuali bangke orang, ikan dan belalang), air susu hewan haram, khamar, dan lain sebagainya.
    Najis Mutawasitah terdiri atas dua bagian, yakni :
    - Najis 'Ainiyah : Jelas terlihat rupa, rasa atau tercium baunya.
    - Najis Hukmiyah : Tidak tampat (bekas kencing & miras)
    Untuk membuat suci najis mutawasithah 'ainiyah caranya dengan dibasuh 1 s/d 3 dengan air bersih hingga hilang benar najisnya. Sengankan untuk najis hukmiyah dapat kembali suci dan hilang najisnya dengan jalan dialirkan air di tempat yang kena najis.

    3. Najis Mughallazhah (Najis Berat)
    Najis mugholazah contohnya seperti air liur anjing, air iler babi dan sebangsanya. Najis ini sangat tinggi tingkatannya sehingga untuk membersihkan najis tersebut sampai suci harus dicuci dengan air bersih 7 kali di mana 1 kali diantaranya menggunakan air dicampur tanah.
    Tambahan :
    Najis Ma'fu adalah najis yang tidak wajib dibersihkan/disucikan karena sulit dibedakan mana yang kena najis dan yang tidak kena najis. Contoh dari najis mafu yaitu seperti sedikit percikan darah atau nanah, kena debu, kena air kotor yang tidak disengaja dan sulit dihindari. Jika ada makanan kemasukan bangkai binatang sebaiknya jangan dimakan kecuali makanan kering karena cukup dibuang bagian yang kena bangkai saja.
    Silahkan Baca Selengkapnya...

    Arti Thaharah

    "T H A H A R A H"


    Arti Thaharah

        Thaharah mempunyai arti bersuci. Thaharah menurut syara' artinya suci dari hadast dan najis. Suci dari hadast dilakukan dengan cara wudlu, mandi dan tayammum. Sedang suci dari najis dilakukan dengan cara menghilangkan najis itu dari badan, tempat, pakaian.

      1. Macam-macam Air
         Air yang dapat dipakai bersuci ialah air yang bersih ( suci dan mensucikan) yaitu air yang turun dari langit 
         atau keluar dari bumi yang belum dipakai untuk bersuci. Macam-macam air yang suci dan mensucikan 
         adalah:
    • air hujan
    • air sumur
    • air laut
    • air sungai
    • air telaga
    • air embun
    • air salju

      2. Pembagian Air 
          Ditinjau dari segi hukum nya, air dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
          1. Air yang suci dan mensucikan.
              Air ini ialah air yang boleh diminum dan dipake untuk menyucikan(membersihkan) benda yang lain. 
             Yaitu air yang yang masih murni yang jatuh dari langit atau terbit dari bumi dan masih tetap belum 
              berubah keadaannya, seperti; air hujan air laut, air sumur, air es yang sudah hancur kembali, 
             air embun,  dan air yang keluar dari mata air. Allah berfirma Al-Anfal :11: “Dan Allah menurunkan 
             kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu.Perubahan air yang tidak 
            menghilangkan keadaan atau sifatnya’suci menyucikan’. Walaupun perubahan itu terjadi salah satu dari 
            semua sifatnya yang tiga(warna,rasa dan baunya) adalah sebagai berikut:
    • Berubah karena tempatnya, seperti air yang tergenang atau mengalir di batu belerang.
    •  Berubah karena lama tersimpan, seperti air kolam.
    •  Berubah karena sesuatu yang terjadi padanya, seperti berubah karena ikan atau kiambang.
    • Berubah karena tanah yang suci, begitu juga berubah yang sukar memeliharanya misalnya berubah karena daun-daunan yang jatuh dari poho-pohon yang berdekatan dengan sumur atau tempat-tempat air yang lainnya.
        2. Air suci tetapi tidak menyucikan
            Zatnya suci tetapi tidak sah dipakai untuk menyucikan sesuatu. Yang termasuk dalam kategori ini 
            ada tiga macam air :
           a. air yang telah berubah salah satu sifatnya karena bercampur dengan sesuatu benda yang suci, 
               selain dari perubahan yang tersebut di atas seperti air teh, air kopi, dan sebagainya.
         b.Air sedikit kurang dari dua kulah (tempatnya persegi panjang yang mana panjangnya, l
           ebarnya,dalamnya 1 1/4 hasta.kalau tempatnya bundar maka garis tengahnya 1 hasta, dalam 2 ¼ hasta, 
          dan keliling 3 1/7hasta.) sudah terpakai untuk menghilangkan hadas atau menghilangkan hukum najis. 
          Sedangkan air itu tidak berubah sifatnya dan tidak pula bertambah timbangannya.
        c. Air pohon-pohonan atau air buah-buahan, seperti air yang keluar dari tekukan pohon kayu(air nira), 
           air kelapa dan sebagainya.

        3. Air yang bernajis
           Air yang termasuk bagian ini ada dua macam :
          a. Sudah berubah salah satu sifatnya oleh najis. Air ini tidak boleh dipakai lagi, baik airnya 
              sedikit atau banyak , sebab hukumnya seperti najis.
         b. Air bernajis tetapi tidak berubah salah satu sifatnya. Air ini kalau sedikit- berarti urang 
            dari dua kulah –tidak boleh dipakai lagi, bahkan hukumnya sama dengan najis. Kalau air itu banyak 
            berarti dua kulah atau lebih, hukumnya tetap suci dan menyucikan. Rasulullah bersabda Saw : Air itu 
           tidak dinajisi sesuatu, kecuali apbila berubah rasa, wana atau baunya.”(Riwayat Ibnu Majah dan 
          Baihaqi). Dalam hadist lain Rasul Saw: ‘Apabila air cukup dua kulah, tidaklah dinajisi oleh sesuatu 
          apapun.(Riwayat oleh lima ahli hadist)

        4. Air yang makruh
           Yaitu air yang terjemur oleh matahari dalam bejana selain bejana emas atau perak. Air ini makruh 
            dipakai untuk badan. Tetapi tidak makruh untuk pakaian; kecuali air yang terjemur di tanah, seperi 
            air sawah, air kolam, dan tempattempat yang bukan bejana yang mungkin berkarat.. Sabda 
           Rasulullah Saw. Dari Aisyah .Sesungguhnya ia telah memanaskan air pada cahaya matahari. 
           Maka Rasulullah Saw. Berkata kepadanya , ‘Jangan engkau berbuat demikian, ya Aisyah. 
           Sesungguhnya air yang dijemur itu akan menimbulkan sopak.”(Riwayat Baihaqi)
    Silahkan Baca Selengkapnya...

    Rukun Islam


    RUKUN ISAM

    Rukun Islam ada lima yaitu:
    1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat, 
        Dua kalimat Syahadat ialah " dua perkataan pengakuan yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati untuk menjadikan diri orang islam". Lafadz kalimat Syahadat ialah
             Artinya: " Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. 
                         Dan aku bersdaksi bahwa Nabi muhammad SAW adalah utusan Allah".
            Jika seorang yang bukan islam membaca dua kalimat Syahadat dengan sungguh-sungguh, yakni membenarkan dengan hati apa yang ia uvapkan, serta mengerti apa yang ia ucapkan, maka masuklah ia kedalam agama Islam, dan Wajib mengerjakan rukun islam.

    2. Mengerjakan Sholat lima waktu sehari-semalam,
    3. Mengeluarkan Zakat,
    4. Berpuasa dalam bulan Romadhan,
    5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.
    Silahkan Baca Selengkapnya...

    Hukum Islam


    HUKUM ISLAM
    1. Mukallaf
        Orang mukallaf ialah orang muslim yang yagn dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama, karena telah dewasa dan berakal (akil balig) serta telah mendengar seruan agama.

    2. Hukum-hukum islam (Hukum Syara')
     a. WAJIB
         Yaitu suatu perkara yang apabila di kerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.
         Wajib atau fardhu itu di bagi menjadi dua bagian:
         1.) Wajib 'Ain
               Yaitu yang mesti dikerjakan leh setriap yang mukallaf sendiri, seperti shalat lima waktu,
                puasa dan sebagainya.
         2.) Wajib Kifaiyah
               Yaitu suatu kewajiban yang telah dianggap cukup apabila telah dikerjakan oleh sebagian orang-orang
                mukallaf. Dan berdosalah seluruh nya jika tidak seorangpun dari mereka mengerjakannya, seperti
                menyembahyangkan mayit dan menguburkannya.

    b. SUNNAT
        yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak berdosa.
        Sunnat di bagi menjadi dua, yaitu:
        1.) Sunnat Mu'akkad
            Yaitu sunnat yang sangat dianjurkan mengerjakannya seperti shalat tarawih, shalat dua hari raya idul
        Adha dan sebagainya.
        2.) Sunnat Ghairu Muakkad
            Yaitu sunnat biasa.


    c. HARAM
        Yaitu suatu perkar ayang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan jika dikerjakan mendapat dosa,
        seperti minum-muniman keras, berdusta, mencuri dll.

    d. MAKRUH
        Yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan tidak berdosa, dan apabila ditinggalkan mendapat pahala,
         seperti makan petai, berambang mentah dan lain lain.

    e. MUBAH
        Yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan pahala dan berdosa, dan apabila ditinggalkan juga tidak
         mendapat pahala dan dosa. Boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan
    Silahkan Baca Selengkapnya...
     

    Blogroll

    Site Info

    Text

    Mutiara Qolbu Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template